Menimbang Kembali Perayaan Ulang Tahun(ULTAH)
Oleh : Ibnu Jalal
Mengingat-ngingat hari lahir atau lebih dikenal dengan ULTAH(ulang
tahun) dengan tujuan bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan, yaitu
Allah telah menciptakan pada hari tersebut. Sehingga disyukurilah hari kelahiran
itu dengan kegiatan positif/bernilai ibadah merupakan perbuatan yang baik.
Rasulullah SAW pun bersyukur atas kelahirannya. Beliau berpuasa pada hari senin
sebagai manifestasi rasa syukurnya. Sebagaimana hadis yang dikutip oleh Imam
As-syaukani dalam
karyanya Nailul Author:Juz 4 halaman 294
عن
أبي قتادة "أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين فقال : ذلك
يوم ولدت فيه, وأنزل علي قيه"
“Dari Abi Qotadah :
bahwasanya Nabi Muhammad SAW ditanya mengapa berpuasa di hari senin? Maka
beliau menjawab “itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari diturunkannya
wahyu kapadaku”
Mengomentari hadis di atas Imam As-shon’ani menulis komentar
dalam karyanya Subulus Salam: juz 1 halaman 581
وقد
اتفق أنه صلى الله عليه وسلم ولد فيه وبعث فيه. فيه دلالة على أنه ينبغي تعظيم
اليوم الذي أحدث الله فيه على عبده نعمة بصومه والتقرّب فيه
“Sugguh Ulama’ telah sepakat bahwa Rasulullah SAW dilahirkan dan
diutus pada hari itu. Dan ini menjadi dalil memang pantas bagi hamba-Nya
mengagungkan hari dimana pada hari itu Allah mencipatakannya sebagai nikmat,
dengan cara berpuasa dan taqorrub pada hari tersebut”
Syekh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-maliki menuturkan beberapa model syukur kepada Allah SWT dalam karyanya Halal
Ihtifal: halaman 17
والشكر
لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة وتلاوة القراءن.....
“Bersyukur kepada Allah
bisa hasil dengan beberapa macam ibadah, seperti bersujud, berpuasa,
bersedekah, dan membaca Al-quran.....”
Namun dalam praktek di masyarakat umum banyak sekali kita temukan
perayaan ulang tahun diisi dengan hal-hal yang kurang bermanfaat dan terkesan
hanya foya-foya dan untuk kesenangan semata. Seperti maklum adanya diisi dengan
perbuatan yang menyerupai orang kafir, saling melumuri badan dengan tepung, cat
pilox, saling lempar kue bahkan minum-minuman keras, dan perbuatan-perbuatan
yang sebenarnya dilarang oleh agama. Maka perayaan ulang tahun tersebut telah
ternodai dan tidak dapat dibenarkan adanya.
Pada tanggal 02 Januari 1492 M Granada, Spanyol jatuh kekuasaannya
ketangan raja Ferdinand II dan Ratu Isabella setelah kurang lebih dikuasai umat
islam 700 tahun lamanya. Orang-orang islam dimasa itu diberi dua pilihan. Satu;
murtad, dua; keluar dari bumi Andalusia. Banyak dari orang-orang islam yang
memilih pergi demi menjaga imannya namun ada juga yang memilih untuk tetap di
sana.
Untuk membedakan antara orang kristen asli dan orang islam yang
memilih murtad, mereka diberi topi berbentuk kerucut yang diberi nama “sanbenito”[1].
Nah ! topi inilah yang sering dipakai oleh orang yang merayakan ulang tahun. Padahal
mereka sendiri tidak tahu asal-muasal topi tersebut.
Nabi pernah bersabda
من
تشبه بقوم فهو منهم
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongannya”
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa merayakan
ulang tahun merupakan perbuatan yang baik dan bahkan dianjurkan dengan beberapa
catatan penting;
1.
Bertujuan
mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita
2. Mengisi
acara dengan hal-hal yang bernilai ibadah, seperti berpuasa, bersedekah,
membaca Al-quran dll.
3.
Dijadikan
jembatan untuk mendekatkan diri kepada Allah
4.
Menyadari
bahwa bertambahnya usia adalah berkurangnya umur sehingga kita lebih
meningkatkan ibadah kepada Allah untuk bekal bertemu dengan-Nya
5.
Tidak
menyerupai perbuatan orang-orang kafir, seperti meniup lilin diiringi lagu
“Happy Birthday” dan memakai topi Sanbenito
6.
Tidak
menghambur-hamburkan harta, seperti saling lempar makanan, melumuri badan
dengan tepung dsb.
7.
Tidak
mendatangkan mafsadat pada orang lain dan lingkungan
Namun jika dalam perayaan ulang tahun diisi dengan hal-hal yang
dilarang dalam agama islam, tentu perayaan itu merupkan suatu kebatilan yang
mesti kita jahui bersama. Ahmad al-Hasyimi mengingatkan kita
إِذَا كَانَ الْغُرَابُ دَلِيْلُ قَوْمِ # يَدُلُّهُمْ
عَلَى جِيَفِ الْكِلَابِ
“Kalau burung gagak
dijadikan pemandu jalan, maka tentu saja ia akan membawa mereka ke dalam tumpukan bangkai” –
Walluhu
a’lam bis showab
Pamekasan, 05
Februari 2019
[1]
Sambenito dalam bahasa Spanyol, gramalleta atau sambenet dalam bahasa Catalan)
adalah topi berbentuk kerucut yang digunakan sebagai sebuah bentuk hukuman
terutama ketika masa Inkuisisi Spanyol. Topi ini disertai dengan garmen mirip
skapulir, dengan dekorasi salib Andreas untuk menghukum penganut ajaran sesat(yang
dimaksud islam) atau dengan dekorasi berupa naga, iblis, dan bruder. Kostum ini
digunakan oleh penerima hukuman ketika menerima ritual auto da fé pada masa
Inkuisisi Spanyol karena telah melakukan ajaran sesat
